Friday, October 15, 2010

It's called living, honey!

Oke, this is for the couple of days which make me think and think and think.

People thought that all things must be done in the right time, and so they wait, they wait and they wait until 'pops', the moment's through.

Here what I shall say. There is no 'right time'. We make the 'right time'. We do it after some consideration, but we jump to the risk. If we wait, no time will be good enough. We make decisions in our life. We make things we thought couldn't happen, happen.

It's called living, honey!

Wednesday, October 13, 2010

Put it in the pocket, save it, save it.

Rasanya takjub sendiri, berada dalam posisi kurang lebih dua tahun setelah menyelesaikan that bloody draining relationship which I had, dan sampai pada apa yang gue rasakan saat ini. Gue punya kesulitan untuk mendefinisikan apa yang sebenernya terjadi saat itu, tapi setelah gue analisis beberapa kali, dan tadi malem diobrolin lagi bareng Aneta (plus contoh kasus di orang lain) mungkin gue bisa melihat hal ini dengan lebih objektif.

Bentuk hubungan antar manusia itu memang berbeda-beda. Dulu, yang gue alami itu kira-kira seperti ini. Si seseorang ini bilang kalau dia suka sama gue. Walaupun awalnya gue gak merasakan sesuatu yang lebih, tapi upayanya, kata-kata yang dia sampaikan, harapan yang dimunculkan di hati gue, akhirnya bikin gue jatuh sayang, dan voila, jadilah. Inilah anehnya, gue itu sebetulnya sudah beberapa kali baca hubungan yang sehat, baik dan benar itu seperti apa. Gue termasuk orang yang percaya dan yakin tentang diri sendiri, dan pentingnya untuk menjadi mandiri, untuk jadi perempuan yang berdiri di atas kaki sendiri, dst, dst.

Tapi yang terjadi adalah, gue akhirnya membangun diri gue di sekitar orang ini, dan dia menjadi pusat semesta gue saat itu. Horrific, isn't it? But trust me, it can happen, and it did happen. Efek buruk dari hubungan yang seperti ini sebetulnya simpel. You loose yourself. Hal paling penting yang lu lakukan adalah jangan sampai orang ini marah, atau kecewa sama apa yang lu lakukan. Gue entah bagaimana jadi mengiringkan diri gue berjalan di sepatunya, mengubah diri gue seperti dia, melakukan hal-hal yang gue tau dia suka, walau ketika itu selesai, gue sadar itu bukan gue sama sekali.

Scary huh? Gue kira, gue cuma sendiri. Tapi seiring perjalanan, terutama dua tahun belakangan, gue menyadari kalau bukan hanya gue yang mengalami hal seperti ini. Ini bukan masalah siapa yang salah, it takes two to build a relationship, but it also takes two to ruin it. Tapi, membuat orang lain menjadi pusat kehidupan lo adalah sebuah keputusan yang sangat salah. Paling mengerikan adalah ketika suatu hari lu sadar kalau lu gak kenal sama diri lu sendiri, plus orang yang lu kira bakal ada di sisi lu selamanya tiba-tiba mengambil jarak untuk kemudian beranjak lebih jauh. Imagine how world just crumbles then.

Yah, sejujurnya, gue pikir, mengalami memang lebih besar efeknya daripada sekedar tahu. Dan gue kalau disuruh memilih mau atau gak mengalami ini, gue akan tetap memilih untuk menjalaninya, walau efeknya gue musti nangis darah, lost my friends, those fights I hate to remember, feeling that strange sadness on my graduation day, tetep aja, akan gue jalani kalau memang gue butuhkan untuk membuat gue lebih dewasa secara emosional.

Setelah hubungan yang ini selesai, tiba-tiba, dunia jadi berubah rasanya. Ada begitu banyak emosi lain yang lupa gue rasakan. Kebaikan hati banyak orang yang terlewatkan. Tiba-tiba gue mengejar ketertinggalan, keterbelakangan mental gue selama dalam situasi itu. Ada sejumlah kegelisahan yang tiba-tiba menguap. Apa sih, yang harus gue khawatirkan? Apa sih maksud dari mencintai diri sendiri? Apa sih makna dari menyayangi orang-orang di sekitar lo? Belajar menjadi pendengar yang lebih baik. Belajar mengumpulkan kebahagiaan dari hal-hal sederhana, seperti bikin seorang temen bahagia udah didengarkan. Atau menikmati setiap momen yang bisa dinikmati, perjalanan Bremen-Hamburg dengan segelas kopi, novel dan playlist yang keren, cool egypt, jalan panjang dari city center ke rumah gue, hari-hari bermain dengan bu vita, aneta, alin, mbak dian, sambil ngobrol gak jelas, this thrilling feeling while writing. Oh my God. This ability to move forward is so rewarding!

Oya, bagaimana sebenernya perasaan cinta yang dulu itu selesai? Pertama yang pasti, gue minta sama Allah untuk disudahi kalau akhirnya buruk buat gue. Kedua, ada satu momen pencetus, dan bisa dialami beda-beda di tiap orang dimana tiba-tiba, perasaan sayang dan masih pengen balik itu tiba-tiba berubah 180 derajat, menjadi, yah awalnya, muak. Muak adalah titik ketika rasa sayang, semua perjuangan dan harapan tiba-tiba hilang. Dan tanpa lu sadari, hanya dalam beberapa waktu kemudian, yang bersisa adalah... indifferent. Gak berarti apa-apa lagi. Tiba-tiba lu bisa ngomongin, atau nulis kayak gini tanpa rasa beban, sedih, kemarahan dan luapan emosi lagi. Elu mengungkapkannya kembali hanya sebagai sekedar fakta yang elu tahu, yang seperti disebut di film-film, pelajaran buat diri lu.

Gue memang belum pernah ketemu orangnya lagi setelah kejadian yang dulu itu. Dan hal itu udah gak penting lagi, semua orang toh sudah menjalani hidupnya masing-masing (luar biasa sebetulnya bisa ngomong ini, kalau dibanding nangis durjana dua setengah tahun lalu! ;)). But I was just curious, what I will say. I would probably say thank you, thank you. Not in an ironic, or cynical kind of way. But honestly, I am so happy this day, that I also owe it to this old love story of mine, to help me understand this happiness I have right now.

If people ever wonder why God created us, this learning process that we experience during our lifetime, sure worth to be acknowledged by our souls.

Lega. :)

Tuesday, October 12, 2010

Why marriage.

I might sound sour by saying this. But really, you can't treat marriage as a competition. I have had this conversation with some really good friends who knows me and understand me well, so they know that it's not that I don't wanna be married, but it's just the fact of this road that I'm walking through is yet to have this special someone by my side.

And when I say that he's special, I mean it, with all my heart. The very reason I will say yes to that person, whoever he might be, would be based on the reason that he will fits me well. I can't really say it that well, but that's how I feel. It's not the most handsome, or the cleverest, or the richest, and all and all and all. Oh well, you fell in love with someone who makes you feel good, who makes you comfortable living under your own skin, whom you can have conversations which ends up after long abstract talk saying 'I understand what you mean'.

I mostly was joking around if I say 'So when's the date?' to a friend who already has a girl/boyfriend. But I always think that marriage is a big deal, which takes you into this moment of realization: I am absolutely ready to live by this particular man/woman. It takes that certainty.

Not because you're running out of time. Or the fact by the age of 60 you'd probably retired. Or maybe he's the best guy/girl in 'the market' and you might lose the chance. But you just find someone who cannot bore you in conversations, that you'd always come up with things to talk about, and if you need time to be just quiet sitting side by side, that's also fine. It's this similarity of emotion, of understanding each other's habits and fluctuations.

Oh well, it's just my ideal way in seeing life. People would say other things, of course ;)

*makes me really considering this simple, sacred wedding then big flashy ones -_-'

Monday, October 11, 2010

Efek Doa

Keinget tulisan tentang 'doa', tentang pendapat para kaskuser kalau susah nyari cewek yang dewasa, tentang perjalanan nun jauh ke desa nelayan kamis besok, tentang pulang ke Indonesia raya minggu besok, tentang perjalanan mencari seseorang yang akan bikin diri ini jadi versi terbaik dari diri sendiri...

I pray to God for making me strong
For not living me astray
That above all, despite all
doesn't He always stand by our sides?
Strengthen us when we're weak, reminded us when we're wrong?
What am I being fear about, when He is the one who holds my hand?

Nothing to fear about. Nothing at all.

Realization

Just read a friend's blog.
Realized, how easy life has been treating me. Shame on me if I nag about it.

Life is meant to be thankful for, every single moment. Every single amazing moment.

Sunday, October 10, 2010

Insecurity! Fly away!

Baru aja makan segelas es krim sama minum kopi, jam 8 malam. Untuk yang suka nanya 'Serius dietnya??' bisa gue nyatakan sehari ini cuma makan siang dua porsi kecil pizza, dan sisanya air putih dan kopi, jadi gak pa pa ya... :P

Gue gak biasa beli es krim, konten gulanya itu loh... tapi beberapa hari lalu bertamu ke rumah teman, bawa es krim, dan kulkas dia rusak, jadi gue disuruh bawa pulang sisanya, jadilah begitu situasinya... :P

Gue pikir, kadang diri ini sebegitu terbiasanya dengan 'diri sendiri'. Gue pernah nulis ini beberapa waktu lalu, pas ada kakak kelas/temen main ke sini, dan pas dia mau cabut pulang, dia bilang 'Fah, kamu tuh mandiri banget deh...'.

Dari latar sejarahnya ya memang terbiasa begitu... ibu gue selalu menekankan pentingnya gak bergantung sama orang lain kalau musti membereskan urusan-urusan. Sebisa mungkin kerjain dulu sendiri. Lalu, gue SMA di asrama, kuliah S1 beda kota sama ortu, S2 apalagi, malah beda negara. Dan kalau negaranya kayak Jerman begini yah... gak susah untuk hidup mandiri karena semua fasilitasnya ada (the cool ticket machine in the train station. gonna miss this part of Germany a lot! ;D).

(Lagi-lagi, ini masih intro tulisan...:P)

Gue biasa seperti ini, tapi pernah terjerembab ke gak asiknya ketergantungan. Apalagi kalau bukan karena cinta... hehehe... Mungkin karena gue ngerasa dimanjain dan diladenin, akhirnya gue jadi menuntut lebih, and as you can tell, the relationship itself failed. Many other lesson came out of that one, but as a whole, I am grateful for the experience. I won't delete it if I have the chance ;)

Masalahnya, salah satu hal penting dalam hubungan laki-laki dan perempuan adalah perasaan aman, secure. Lebih gampang kalau kita ngebahas antonimnya, insecurity yang biasa melanda ketika somehow kita merasa gak aman dengan hubungan kita. Bukan karena ancaman fisik, tapi lebih karena ketika si pasangan sibuk, kita ngerasa gak diperhatiin, atau khawatir setiap kali dia pergi entah dia ketemu cewek/cowok lain, dsb dsb.

Trust me, I've been there. Twice. It was such a disturbing feeling. Seeing the guy talking easily with other girls while being totally awkward to you (it's sweet in the beginning, but if it continues all the way like that, well yes, it's bothersome...). Your messages sent and not being replied which makes you send more and more, and disturb him more and more until it gets to his nerves and decided that you are too much in doing this.

Fact is, the healthy relationship will of course reciprocated, if you send a message that seems to be hoping for an answer, of course the other person should reply. Tapi gak bener juga untuk merongrong tiada henti ke pihak yang satunya lagi sementara dia memang sedang sibuk, atau apalah yang memang gak bisa diganggu. Dan, kalau dipikir-pikir, toh selama berpuluh tahun masing-masing manusia dalam pasangan hidup, toh mereka sudah membangun dan menjalani banyak hal, dan ya wajar kalau hidup itu masih dijalani walau harus dibagi juga sama seseorang yang baru. Tapi ya dalam kadar yang wajar...

So how to actually deal with it? Memang gue masih jomblo :P, tapi gue rasa toh orang yang tepat akan membalas panggilan hati lo dalam kadar yang tepat. Lu sendiri pastinya punya hal-hal yang harus lu kerjakan, hidup yang sudah lu bangun, dan rasanya gak bisa juga menjadikan orang lain sebagai pusat kehidupan lo. Gue lebih percaya, seseorang yang tepat buat diri lo, bakal berjalan seiringan, saling membutuhkan dalam kadar yang sehat, bahwa, seperti kata kakak kelas gue yang lucu 'jarak fisik itu gak masalah, yang penting jarak hati tetap deket.'

Di film Dan In Real Life, atau seperti di lagu Falling - Ant and Dec di jaman jadul, that perfect right person adalah:

What is it? That it's frustrating that you can't be with this person?
That there's something that putting you apart, that there's something in this person you can really connect with?
And whenever you're near this person, you don't know what to say and you say everything, that's in your mind and in your heart.
And then you know that if you can just be together, that this person will help you become the possible best version of yourself.

If you meet one like that, I mean come on. If you're already together, there's not much too worry, isn't it? Insecurity and all, just flew? Adds up with love experiences that you had, your own understanding of maturity, wouldn't that work out just fine? ;)

Saturday, October 2, 2010

Novel dan Atrikulasi Ide

A novel is an art of craftmanship. Ada banyak cara untuk menyampaikan ide dan khayalan yang elu kembangkan dalam pikiran, gimana membuat apa yang sebelumnya hanya ide jadi sesuatu yang bisa dideskripsikan dengan detail, believable, (sometimes) profound, dan membuat lo bisa melihat banyak hal dari sudut pandang yang berbeda.

Membaca novel pun adalah suatu proses. Lu mulai dari sesuatu yang mudah, atrikulasi ide-ide yang simpel dan gampang untuk dimengerti. Dulu gue sama adek gue suka baca buku-buku Enid Blyton di samping ratusan komik yang kita berdua punya ;) Buku-buku cerita yang simpel, tapi menstimulasi dan mengembangkan ide yang kita miliki. Membuka pemahaman baru atas hal-hal yang sebelumnya belum kita pahami.

I took it to the extreme. Waktu gue SMA, gue mulai suka belajar tentang ide-ide. Tentang sains, black hole, galaksi dan alam semesta, lalu muter balik ke arah bumi untuk belajar tentang Tao, sejarah dunia, sufisme, dsb. Waktu itu lagi masa-masa trend novel-novel islami. Dengan tawaran konsep yang berbeda tentang hubungan antar manusia. It was good, because I was living in a glass world in high school. I wasn't dealing with real life. With people being different.

And then, unprepared as I am, university happened. Exposure to differences, ideas, more polarized ideas... But I also found my oasis beneath that struggling. Unit gue di Salman dulu, Aksara. It was a time when I felt in love for real to novels. Awesome ones. Endless discussions on many stuff, try to rewrite other stuff, creatively creating ;)

Salah satu momen paling berharga adalah ketika baca beberapa buku berikut.
Sang Alkemis. Paulo Coelho.
My Name Is Red. Orhan Pamuk.
Misteri Soliter. Jostein Gaarder.
The Name of The Rose. Umberto Eco.
Ayat-ayat Cinta. Habiburrahman el (apa ya, lupa..).

Sang Alkemis adalah momen berharga, membantu gue untuk melihat dari perspektif berbeda. Kekuatan dari memiliki mimpi dan berjuang dalam mewujudkan mimpi. Ini didukung sama keberadaan Misteri Soliter. The wonderful world of phylosophy. Lalu ada The Name of The Rose, my first super lengthy novel. With extremely intricate details. Awful struggle on the first few chapters, but then it's worth ALL the fight. It's super enlightning, it helps you understand humor in a more profound way (SERIOUSLY!), suatu hari akan gue ulang bacanya :D Ayat-ayat cinta gue sebutkan juga karena perspektif gue berubah dua kali waktu baca itu. Mungkin karena pertama kali gue baca gue dalam proses jatuh cinta, jadi isinya terasa begitu sempurna dan mungkin. That such perfect guy exists. That no matter how strange a guy can behave (which correlates with his actual fatal flaw) you'll still be in love with him. Beberapa tahun kemudian ketika gue sudah selesai patah hati, perspektif gue ketika memahami buku ini sama sekali berbeda. Sampai gue pun memilih untuk gak nonton filmnya. :)

Tapi, untuk tema tulisan sekarang (which I took all around quite far already ;P) adalah konstruksi bahasa di My Name Is Red. Gue pernah mencoba baca sebelumnya, novel pemenang nobel lainnya, dan oh Mann, it was a terrible fight and I just can't get through. Dan gue membulatkan tekad, yang ini harus gue selesaikan apapun alasannya. Dan berjuanglah gue memahami alur, cara berbahasa, dan metafor yang dirajut begitu indah di dalamnya. Ketika selesai, gue terkesima bahwa manusia punya kemampuan berbahasa yang menakjubkan. Bahwa dunia kata-kata itu tidak sesimpel yang gue kira...

Buku ini jadi tonggak bersejarah, karena setelah itu, walau ada buku-buku lain yang sulit, tapi gue jadi menyadari banyak buku indah lainnya yang punya keindahan bahasa, ide yang sama sekali baru dalam perspektif gue, dan walaupun gak baru, rasanya menakjubkan karena ide tersebut bisa diungkapkan dalam kata-kata. Ketika sampai di Jerman, walau gue dulu baca beberapa novel dalam bahasa Inggris, gue jelas membutuhkan perjuangan tambahan untuk membuat diri gue pewe sama ritme bahasa yang berbeda. Nonton tv atau film jelas lebih mudah, tapi membaca novel?

Waktu itu gue inget ngebaca beberapa novel Jane Austen (yang toh gak ada terjemahannya dalam bahasa Indo), To Kill A Mockingbird, dan akhirnya ketemu sama beberapa novel paling mengena yang pernah gue baca. Home, Gilead, Catcher in the Rye, A Fraction of a Whole, dan setelah bertahun-tahun, Sophie's World jadi jauh lebih mudah dipahami... :))

It's not an end yet. Banyak rajutan bahasa lain yang ingin gue baca dan pahami. Kalau orang nanya jenis novel kesukaan gue, ya gue beneran bingung jawabnya. Gue gak bakal nolak dan pastinya gue suka novel misteri, terutama semua yang bu Agatha Christie tulis. Kadang gue suka novel-novel pop atau some very nice simple stories, Jodi Picoult, etc etc. Tapi ada beberapa novel yang kalau lu berhasil selesaikan, it'll take you to another level. And I'd challenge myself into those. My personal favorite are the ones who won or atleast got shortlisted for Booker, Orange, or some other writing prestigious awards. These people are real craftmen. They put words into meaningful and can even be profound stuff. You feel richer when you finish walking along these stories. You'd be glad to see this perspective ;)

My next ones in the list are (just because my other books are in boxes already):

We Need to Talk About Kevin
dan
We Need to Talk About Kelvin

One an orange winning fiction, the other is about popular science. We'll see ;)